Litelenjel's Stories

bercerita tentang rasa yang ada

tak terucap, bukan berarti tak dirasa..

Karena kita punya hati. Tempat bebas untuk menduga, berprasangka, berpendapat, merasa, dan memelihara mimpi. Wilayah abu-abu dari semua penilaian benar salah. Teritorial paling aman lagi pribadi. Kotak pandora penuh misteri, berisi hasrat dan rahasia terdalam.

Dan inilah kisah cerita hatiku. Isi benak dan pikiranku. Tentang aku, kamu, dan sekitar.

Mengenang Duka

Dingin malam yang pekat, membawa ingatan tentangmu. Tak ada senyum, tanpa air mata. Hanya ada amarah.

Potongan adegan dari kotak memori.. Satu-satu yang tersisa, melintas tak punya arti. Hanya ada kecewa.

Malam ini aku lepaskan semua dendam dan sakit di hati. Aku tak butuh rasa ini lagi. Selesai sudah.

Wahai duka, terima kasih.. Aku belajar.

Pergilah, manusia munafik. Sang maestro manipulatif. Ahlinya pemahat luka abadi.

Toxic dalam penggalan kisah hidupku, pergilah yang jauh..

Semoga kita tak akan pernah bertemu lagi. Di dunia, maupun di kehidupan setelah ini.

Sewindu

Yang dulu menggebu, kini jadi debu.

Tak ada lagi tutur lugu, yang ada hanya ingatan pengundang pilu.

Sewindu yang semu. Ditutup dengan luka dan sendu.

Memang sepatu tak akan mungkin bersatu. Aku pun sangat tau itu.

Tapi.. Tak bisa kah hanya berlalu?

Mengapa sih, pakai menipu? Mengapa harus melukiskan biru?

Dendam apa yang kau buru?

Jangan Lagi

Titik air langit mulai membasahi bumi. Menemani hati yang sendiri.

Lamunan membawa yang tersisa menjadi nelangsa. Hati ini belum utuh. Dia belum sembuh.

Jangan datang lagi jika akhirnya akan meninggalkan luka. Kali nanti, ku tak yakin dapat pulih kembali.

What’s next?

Hey munafik, apa kabarnya?

Hari ini aku tau, ada banyak hal untuk disyukuri. Termasuk kepergianmu.

Tuhanku telah menyelamatkan aku dari pecundang benalu sepertimu.

Tak ada ucapan yang lebih baik, selain kata syukur. Kalimat pujian untuk penciptaku, yang telah membawamu pergi jauh dari hidupku.

Pelajaran berharga memang mahal ongkosnya.

Setelah ini, kira-kira di level berikutnya ada mata pelajaran apa lagi, ya?

Duhai Luka, Lekaslah Sembuh

Tak pernah terbayangkan, manusia paling dicinta akan menghadiahkan luka.

Kotak memori sekarang berisi duri tajam. Hanya ada sakit, pedih, dan air mata di sana.

Satu purnama telah berlalu. Luka ini masih belum sembuh juga.

Mengapa harus menipu? Mengapa harus berbohong? Mengapa tega membodohi? Mengapa begitu jahat? Mengapa brutal sekali memperalatnya?

Tidakkah aku cukup berharga untuk diperlakukan sebagai manusia yang punya hati?

Luka ini masih basah. Sakitnya masih terasa hingga ke tulang sumsum.

Semoga bisa sembuh. Semoga nanti bisa pulih. Semoga akan datang waktunya.

The Other Me

Konon katanya, tak kenal maka tak kan sayang. Mari kita berkenalan dan melihat sisi lain dari aku, lebih dekat lagi..

Keep in touch!